Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2019

Menjadi Lebih SABAR

Assalamu’alaikum wr wb Setelah beberapa bulan tak menulis. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali menulis. Tulisan yang ini pertama kali saya alami. Iya, sebagai ibu beranak satu. Tentu banyak sekali pelajaran yang di dapat ketika kita di anugerahi anak. Kesabaran itu benar adanya dalam mendidik anak. Cerita ini bermula ketika saya mengetahui kehadiran anak kedua di dalam rahim ini. Memang tak mudah menerima kenyataan yang baik ini. Tetapi, apalah daya harus di terima kado terindah di hari ulang tahun menjelang ke dua puluh sembilan.  Hancur berkeping ketika kedekatan antara saya dan anak terabaikan. Apa maksudnya??? Jadi begini. Anak saya belum genap usia dua tahun. Tetapi, harus melepas rasa MengASI nya. Rasa di mana kasih sayang yang seharusnya tercurahkan kini harus di putus. Bagaimana tidak setiap hari ketika menjelang tidur rasa kedekatan anak dan saya berkurang sementara. Lalu anak bagaimana??  Jangan di tanya tak khayal jerit tangis nya tak henti meminta. Ada ra

Catatan Kelahiran

Rabu. Di saat keinginan mencari sekolah mba Gita teramat kuat. Maka sudah seharusnya saya memberanikan diri untuk mencarinya. Beberapa sekolah Sudah berhasil kami datangi. Dan sore ketika pulang dari mencari sekolah. Ada perasaan yang tidak nyaman dalam perut ini. Entah mengapa perut terasa begitu kencang dan keras sekali.  Apa yang terjadi??  Spontan rasa itu teramat perih dan berlalu sangat cepat. Tetapi, sebelum itu tugas rumah tangga di bersihkan. Mulai dari mengepel lantai hingga membersihkan kamar mandi. Rasa sakit itu semakin kuat. Hingga tak sanggup untuk di tahan.  Pukul 20.00 berada di ruang UGD di sana hanya bisa berbaring saja, merasakan getaran yang begitu kuat. Perut terasa seperti batu. Bongkahannya itu sangat tajam dan sakit. Semakin tak tertahan lagi, di perjalanan pun tak karuan. Berharap mendapatkan resep obat. Namun, bukan rasa bahagia yang di dapat melainkan gelombang cinta itu datang terus. Dan membuat rasa kantuk hilang. Tak bisa rasanya tertidur p

Menjadi manusia yang slaah

Ketika saya menulis ini. Ada rasa hati bergejolak memuncak dan ingin sekali marah. Namun, bersikap diam itu lebih baik. Semua perasaan kesal dan marah menjadi satu. Perjalanan pernikahan kami Sudh beranjak tiga tahun. Dan alhamdulilah kami telah di karuniakan dua orang putri. Usia nya beda dua setengah tahun. Kehidupan rumah tangga kami tidak berjalan mulus selalu saja ada kerikil kecil yang menyelimuti. Iya, tinggal dekat dengan mertua membuat hati ini selalu di Laputi kecemasan. Terlebih ketika ada sesuatu hal kecil yang sepele maka dengan cepat di singgung. Haaaa.. lelah sekali bertengkar dengan batin ini. Rasanya ingin sekali pergi dari dunia yang hanya sebentar. Tetapi, aku tak sudi anakku di rawat mereka. Terlebih suami yang selalu tak ada rasa romantis lagi.  Bagaimana ini bisa bertahan?? Apa saya harus berdamai dengan keadaan ini?  Tetapi, sampai kapan?? Itulah jeritan hati saya saat ini. Hanya ingin bahagia dengan keluarga kecil tanpa ada yang ikut campur.